Senin, 02 Januari 2012

EMPAT SIFAT MULIA…Apa aza tuuhhh….!!!

Wahai mereka yang telah ridla Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Diennya, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya, ketahuilah bahwa Allah telah menurunkan ayat dalam Surat Al ’Ashr :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al’Ashr : 1-3)

Surat ini pendek, kendati demikian makna yang dikandungnya mencukupi bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana kata Imam Syafi’i rahimahullah : “Seandainya tidak diturunkan dari langit kepada manusia selain surat Al ‘Ashr, tentu surat tersebut mencukupi bagi mereka.”

Rabbul ‘Izzati bersumpah dengan masa, sama saja apakah yang dimaksud itu zaman atau waktu antara ‘Ashr dan Maghrib. Karena kemuliaan-Nya, maka Allah bersumpah, bahwa tidak akan selamat dari kerugian dan kesia-siaan kecuali orang yang mempunyai empat sifat :

1. Al Iman.

Rukun iman yang enam telah anda ketahui, yakni : Iman kepada Allah, malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat dan beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk. Yang pertama kali dari rukun-rukun ini adalah iman kepada Allah. Untuk itu kita akan kembali membahasnya.

2. Amal shaleh.

Apa korelasi antara iman kepada Allah dan amal shaleh ? Iman tanpa amal tidak akan bermanfaat, sebaliknya amal tanpa didasari iman bagaikan debu yang beterbangan. Allah Ta’ala beriman :

 “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (QS. Al Furqan : 23)

3. Saling menasehati untuk menetapi kebenaran.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan akan pentingnya Jama’ah Islam. Oleh karena perintah-perintah dan berita-berita dalam ayat tersebut seluruhnya datang dalam bentuk wawu jama’ah (huruf wawu yang menyatakan bentuk jama’), sebab saling menasehati itu tidak mungkin dilaksanakan kecuali dalam sekelompok orang.

Taushiyah bil haq dan taushiyah bis shabr itu mengharuskan suatu jama’ah untuk tetap konsisten di atas prinsip kebajikan, melangkah di jalan yang benar dan menetapi kesabaran diatas jalan tersebut serta tetap terus menjaga kesungguhan meskipun menghadapi berbagai problem dan rintangan.

3. Saling menasehati untuk menetapi kesabaran.

taushiyah bil haq itu pasti diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan dan pasti diselingi dengan berbagai kesulitan serta pasti diikuti dengan kesedihan dan kepedihan. Karena itu taushiyah bil haq harus disertai dengan taushiyah bis shabr. Tidak mungkin bagi seseorang yang datang membawa kebenaran dan hendak menyebarkannya atau menegakkannya di muka bumi melainkan pasti disana ada manusia yang berdiri di hadapannya untuk merintangi.

 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): "Sembahlah Allah". Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan”. (QS. An Naml :45)

Maka pasti akan terjadi permusuhan, dan akan terjadi perlawanan. Mengingat al bathil itu tidak akan mungkin mau memuluskan jalan bagi al haq dan pasti akan mengadakan perlawanan terhadap al haq dengan kekuatan apa saja yang dimilikinya. Oleh karena itu, mesti ada taushiyah bis shabr.

 

Definisi Jihad.

Kata al jihad menurut bahasa berarti : badzlu al juhdi (mengerahkan kesungguhan), badzlu aqsha ath thaqqah (mengerahkan kekuatan secara maksimal). Sedangkan menurut ishthilahi (terminologi)nya, kata al jihad mempunyai makna : badzlu an nafsi wal maali fie nushrati dienillah wa munaahidhatu a’daa’allahi ‘azza wa Jalla, yakni : mengorbankan jiwa dan harta dalam rangka membela agama Allah dan melawan musuh-musuh-Nya.

Dalam Shahih Muslim disebutkan :

 

 “Berjihadlah kamu sekalian terhadap orang-orang musyrik dengan harta, lesan dan jiwa kalian”.

Marhalah (fase-fase) Jihad.

Jihad fie sabilillah dalam proses pensyari’atannya melalui empat fase/tahapan, sebagai berikut:

1. Diharamkan :

Ketika masih di Mekah

 

 “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat…”. (QS. An Nisaa’ : 77)

2. Diizinkan :

Ketika Nabi SAW dan para sahabat berhijrah.

 

 “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”. (QS. Al Hajj : 39)

3. Diwajibkan :

Ketika musuh terlebih dahulu memerangi mereka.

 

 “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al Baqarah : 190)

4. Diperintahkan :

Untuk memerangi kaum musyrikin secara keseluruhan di permukaan bumi

--khot--

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”. (QS. Al Anfal : 39)

Sampai ketika turun “ayat pedang” dalam Surat At Taubah , yakni ayat:

 

“Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (QS. At Taubah : 36)

 

 “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian”. (QS. At Taubah : 5)

Setelah turun Surat At Taubah, manusia di muka bumi terbagi menjadi tiga golongan :

1. Muslim muqatil

2. Kafir yang terikat perjanjian, membayar jizyah

3. Musyrik yang diperangi

 

JIHAD ADALAH PERISAI AGAMA.

Jihad itu adalah perisai umat yang kokoh dan tameng yang kuat. Yang melindungi agama Allah di zaman ini dan di setiap zaman sampai hari kiamat, tidak mungkin suatu prinsip ideologi bisa tegak di atas landasannya kecuali jika jihad itu wujud adanya, mustahil suatu prinsip itu bisa menang kecuali dengan perang.

Karena itu tugas para Nabi dan Rasul di dunia sangat sulit, kewajiban mereka sangat berat, karena tegaknya ideologi mesti diperjuangkan dengan peperangan demi memenangkannya.

 

KEMULIAAN HANYA DAPAT DI RAIH DENGAN JIHAD

Jihad adalah satu-satunya jalan yang dapat dipercaya untuk menetapkan kebenaran dan menghapus kebathilan. Dan ia merupakan satu-satunya jalan untuk memecahkan kekuatan orang-orang kafir dan menolak kekerasan dan makar (tipu daya) mereka.

 

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)”. (QS. An Nisaa : 84)

 

JuliantieShe Smile of Spirit sumber : Tarbiyah Jihadiyah jilid 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar